burjo dan cita-cita menerbitkan buku

bagian lain dari hari di mana escudo saya ketahuan tropis adalah saat kami nongkrong di burjo andeska demangan. panas dari luar, panas dari dalam mobil, lalu ditutup dengan es kopi. saya , jono, dan mbek. di sana, seperti biasa, obrolan tidak punya arah yang jelas. tapi justru itu yang membuatnya menarik.

awalnya entah bagaimana kami sampai ke topik penerbitan indie. kemungkinan besar ini turunan dari obrolan sate indie sebelumnya. yang mengomandoi obrolan ini adalah teman saya: jono nihan lanisy (nihanlanisy.com). beliau baru saja bikin buku. sampulnya oranye terang. mencolok. judulnya juga menarik. tapi pokoknya tau-tau ngomongin penerbitan indie aja. tidak ada pembukaan yang jelas, tidak ada transisi yang mulus. tiba-tiba sudah di situ. habis itu, seperti obrolan pada umumnya yang terlalu random, topiknya makin ke mana-mana. dari buku, lompat ke spiritualis. dari spiritualis, lalu ke luka bakar. saya cukup ingat jembatannya di mana tapi ini terlalu rumit jika diceritakan ulang.

katanya dia pakai penerbit model PoD. namanya penerbit sunrise. dan yang lebih menarik lagi, dia tidak hanya cerita, tapi juga menjelaskan hitung-hitungannya.

dan ini bagian yang berbahaya.

karena tiba-tiba semuanya terdengar masuk akal. secara ekonomi masuk. tidak terlalu muluk. tidak harus jadi penulis besar dulu untuk bisa punya buku. barrier to entry-nya ternyata tidak setinggi yang saya bayangkan selama ini.

di titik itu, saya mulai tergoda.

bukan langsung karena idealisme menulis atau dorongan berbagi gagasan. jujur saja: awalnya karena ingin bisa ikut ngobrol dengan level yang sama. paling enggak ya sama kaya jono. biar kalo nongkrong saya ga rendah diri.

bayangkan nanti kalau duduk lagi di burjo, lalu bisa bilang dengan santai:
“oh iya,sama aku juga abis nyetak…”

diucapkan dengan rendah hati tentunya.

keren sekali dalam bayangan.

kalau bisa dapat uang ya syukur. minimal cukup untuk bayar langganan domain hosting ini. jadi ada justifikasi finansial kecil di balik ambisi yang sebenarnya lebih ke arah ngasi makan kesombongan.

tapi ya itu.

sejauh ini semuanya masih di tahap membayangkan. karena untuk sampai ke tahap punya buku, ada satu prasyarat kecil yang belum terpenuhi secara konsisten: nulis.

dan itu, ternyata, bagian yang paling tidak bisa di-PO-kan ke siapa pun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *