buber PPKS dan refleksi tentang produktivitas

ramadan kemarin ada buber PPKS. saya anggota PPKS juga, jadi ikut hadir. di sana ada anak baru. PPKS memang adaformasi untuk mahasiswa, jadi selalu ada wajah-wajah segar yang datang dengan semangat yang masih utuh.

ternyata, dunia ini sempit. anak baru ini mahasiswa teman saya. namanya mb finca. teman saya itu mb ayda. mb ayda ini penulis hebat. bukunya banyak. produktif. konsisten. yang tidak hebat hanya satu: laptopnya. tua, lamban, dan baterainya ngedrop.

saya berasumsi baterainya ngedrop karena faktor usia perangkat. karena kalau saya berasumsi beliau jarang nge-charge, itu lebih ke arah menghina. masa iya orang hebat, doktor dari luar negeri, melakukan hal yang tidak rasional seperti itu.

jadi kita sepakat saja: ini masalah teknis, bukan personal.

lalu mb finca. ternyata mbak finca juga punya buku.

di titik itu, percakapan berubah menjadi refleksi internal.

detik di mana dia bilang “aku punya buku”, adalah detik di mana saya mulai mempertanyakan keputusan hidup saya sendiri. terutama yang berkaitan dengan langganan platform nulis 50 ribu per bulan di website ini.

kenapa? karena realitanya saya posting sebulan empat kali. itu pun sistemnya rapelan. bukan konsisten mingguan, tapi lebih ke “oh sudah akhir bulan ya, mari kita jadi produktif dalam satu malam”. sementara di depan saya ada orang-orang yang benar-benar menulis. bukan sekadar punya niat, tapi punya output. nyata. bisa dipegang. ada ISBN-nya. masuk perpus. masuk kritik sastra.

sampai sekarang saya masih merasa agak tidak masuk akal bahwa ada orang yang bisa rajin menulis. apa rahasianya?

apakah mereka punya waktu lebih banyak? atau pikiran yang lebih rapi? atau jangan-jangan mereka tidak terlalu banyak takut seperti saya, jadi langsung saja ditulis?

pertanyaan-pertanyaan ini belum terjawab.

tapi satu hal yang jelas: daripada terus berspekulasi dan membuat teori sendiri yang belum tentu benar, sepertinya langkah paling masuk akal adalah bertanya langsung ke sumbernya. tulisan ini akan saya kirimkan ke mbak ayda agar dijawab.

tapi mungkin dalam waktu dekat saya akan duduk lagi, entah di forum formal atau sekadar ngobrol santai, lalu bertanya ke mb ayda dan mb finca:

“itu kalian nulisnya gimana sih bisa beneran jadi?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *