rejeki ga kemana

katanya rejeki itu nggak ke mana.

di samarinda, saya punya satu teman. tapi menyebut dia “teman” rasanya kurang pas. dia sudah masuk sodara. saya nganggepnya gitu. dia nganggepnya mungkin kebalikannya. soalnya bukan karena hubungan darah, tapi karena frekuensi “numpang” saya di hidupnya sudah terlalu tinggi: numpang tidur, numpang makan, numpang pinjem barang, numpang… ya hampir semuanya. jadi setiap ke samarinda, seperti biasa, saya ke rumahnya. kali ini juga begitu. waktunya mepet, jadi ya minimal numpang makan. itu pun sudah cukup menyenangkan.

dia ini tipikal orang yang hidupnya penuh hobi. hobinya banyak, tapi jarang yang lama. gampang bosan. hari ini ini, besok itu. koleksinya ikut mencerminkan itu—beragam, acak, dan kadang membingungkan. tapi ada satu yang agak konsisten: motor dan mobil. yang ini agak awet.

motornya banyak. mobilnya lebih dari satu. dan dia punya kebanggaan unik: kalau semua koleksinya dijumlah, katanya masih lebih mahal satu mobil bapaknya.

tapi beberapa waktu lalu, dia membuat keputusan besar. dia beli mobil “bener”. dalam tanda kutip, karena selama ini mobil-mobilnya ya… ada saja ceritanya. yang baru ini beda. dari yang saya lihat, harganya kayanya lebih mahal dari total koleksi lamanya. akhirnya, dia punya mobil bener

dan yang menarik, semesta seperti mendukung keputusannya. dulu dia sering pusing. logikanya sederhana: satu mobil, satu masalah per bulan. kalau punya 120 mobil, ya bisa 120 masalah per bulan. itu kalau 120. kalau 400? kalau 500? ya tinggal dikalikan saja. hidupnya lebih banyak diisi mikir mana yang harus dipanasin daripada menikmati perjalanan.

sekarang? harusnya tidak lagi. mobil baru, siap pakai. harusnya hidup jadi lebih tenang. harusnya.

tapi ya itu. masa iya hidup kita lurus-lurus saja.

tidak lama setelah euforia itu, datanglah satu variabel yang tidak bisa dia kontrol: kebijakan pemerintah. harga BBM yang dia pakai naik. bukan naik tipis-tipis yang masih bisa ditertawakan. ini naik yang membuat orang berhenti sejenak sebelum bilang “full tank”.

sekarang satu liter 23 ribu.

saya lihat dia pas liat harga terpampang di pom, dan dia cuma senyum sambil kesal dikit. senyum yang tidak jelas itu antara menerima atau sedang menghitung ulang keputusan hidup.

di situ saya jadi mikir lagi: mungkin memang benar rejeki itu nggak ke mana. tapi bentuknya macam-macam. kadang dikasih kemudahan, seperti akhirnya punya mobil yang “bener”. kadang dikasih sesuatu yang bikin kita mikir lagi—seperti harga BBM yang tiba-tiba naik. jadi kalau rejekinya dikasih otak lebih untuk mikir, ya mungkin memang paketnya sekalian: dikasih juga hal-hal yang perlu dipikirkan.

semangat mas lanang, semoga istiqomah dalam hobinya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *