kwetiau

jadi anak saya lagi opname di RSA. di zaman jaminan sosial seperti sekarang, memang terasa sekali membantu. yang belum punya, sebaiknya segera bikin. yang masih nunggak, ya segera dilunasi. yang punya escudo, ya mungkin diterima saja AC-nya yang panas. amin.

lapar di RS, tadi saya pesan Grab. niatnya sederhana: makan tanpa perlu banyak usaha. tinggal tunggu, datang, selesai. ini gara-gara anak saya pengen pizza. gara2 apa? gara2 nonton kartun yang ada adegan makan pizza. coba dek nonton kartun yang tokohnya make trail ts 2003 warna kuning. mungkin kalo kamu yang minta , bunda bakal bilang iya boleh.

tapi ternyata tidak sesederhana itu. nunggu lama. saya tunggu sambil mikirin hal-hal yang sebenarnya tidak perlu dipikir, biar lupa kalau lagi nunggu. tapi kok tetap terasa lama. ditunggu lagi, estimasinya malah mundur terus. anak saya yang tadinya mau makan, sampai akhirnya ketiduran. bolak balik tanya cs yang ga jelas itu karena AI yang belum cukup I, jadi ya udah saya batalkan. sebenarnya tidak mengubah keadaan banyak—anak sudah tidur, waktu sudah lewat. tapi kan saya dan istri juga belum makan.

akhirnya saya pilih jalan sendiri. secara harfiah. dan di situ baru terasa: ternyata sudah banyak warung baru di sepanjang jalan sekitar RSA. yang sebelumnya seperti tidak ada, atau mungkin saya saja yang tidak pernah benar-benar memperhatikan. walaupun RSA deket rumah, tapi jarang juga saya lewat jalan ini. jalan kaki ini jadi ada waktu untuk memperhatikan dan tahu mereka jual apa, seperti apa tampilannya, bahkan siapa yang jaga.

biasanya kalau ke daerah, ya tujuannya jelas: beli popok anak di toko dekat situ. ya wangun-wangune bapak dengan balita. selesai, pulang. tidak ada cerita lain.

saya berhenti di satu warung baru, yang spanduknya kain hijau stabilo. saya beli kwetiau. tapi ternyata bukan kwetiau seperti yang biasa dibeli—bukan dari beras, tapi pakai mie pipih. justru ini tipe kwetiau “rumahan” yang sering saya bikin sendiri. karena kalau pakai kwetiau beras harus basah dan agak repot nyimpennya.

saya lanjut jalan lagi, nyeberang. tidak jauh dari situ, ada angkringan lama yang dulu waktu saya masih muda sering saya datangi. bapaknya masih ramah, dan susu jahenya masih tidak terlalu pedas. setelah dipikir-pikir, tempat ini mungkin tidak akan saya temui lagi kalau tadi pesanannya tidak dibatalkan.

ya sebenernya kalo misal ada waktu, atau bisa diada-adain, memang mending dicobain jalan sendiri aja. mana tau nemu yang menarik. mana tau

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *