libur lebaran kali ini ada satu hal yang menonjol: anak saya sangat bersemangat ikut “badan”. dia muter-muter ke rumah sodara bersama eyangnya
badan ini bukan tubuh ya. ini istilah untuk datang ke rumah-rumah saudara saat masa lebaran. di tempat saya kadang disebut bakdo atau ba’da—dibaca “bodo”, tapi bukan bodo yang itu. ini bodo yang artinya silaturahmi, bukan yang diucapkan untuk makian .
yang menarik, dia semangat sekali. umur 10 tahun, kata eyangnya, energinya seperti tidak ada habisnya. dari satu rumah ke rumah lain, dari satu kue ke kue lain, dari satu salam ke salam berikutnya. tidak ada keluhan, tidak ada “capek”, tidak ada “di rumah aja yuk”.
saya melihat itu sambil sedikit heran, karena saya kebalikannya.dari dulu saya termasuk yang malas muter-muter. sampai sekarang juga masih konsisten. kalau bisa satu titik, ya satu titik saja. efisiensi energi untuk mencegah pemanasa global. saat anak saya muter-muter. saya di rumah aja sama ibunya dan adeknya.
lalu saya teringat argumen seorang teman. menurut dia, syawalan itu justru lebih penting dilakukan dengan teman-teman. alasannya sederhana : dosa (atau peluang dosa) ke teman itu peluangnya lebih besar.
tiap hari ketemu, tiap hari bercanda, dan di situ juga peluang untuk kebablasan. nyeletuk yang harusnya tidak perlu, bercanda yang ternyata kena hati. frekuensinya tinggi, jadi probabilitasnya juga ikut naik.
sementara ke saudara yang jarang ketemu? logikanya, kalau jarang interaksi, ya jarang juga kesempatan untuk saling menyakiti. bahkan bisa jadi setahun sekali ketemu, justru itu satu-satunya momen berisiko.
solusinya menurut dia: ya tidak usah ikutan
argumen yang menarik.
Leave a Reply