menunggu kabar

umumnya orang datang ke rumah sakit dengan satu tujuan: ingin cepat selesai. tapi ada satu fase yang tidak bisa dipercepat—menunggu. dan hari ini saya sedang ada di fase itu, duduk di depan instalasi bedah sentral, sementara anak saya ada di dalam.

sambil menunggu, saya melihat sekitar yang pasti saja ada yang main hp. ini bukan termasuk saya. bukan karena saya lebih mindful atau lebih kuat menghadapi kenyataan, tapi karena batre saya habis.

jadi saya buka laptop. improvisasi.

membuka aplikasi apa saja, yang penting bukan pikiran sendiri. email dibuka, padahal tidak ada yang benar-benar perlu dibalas. file lama dilihat, seolah-olah mendadak jadi produktif, padahal hanya bersih-bersih file besar. bahkan sempat mempertimbangkan untuk merapikan folder—sebuah aktivitas yang biasanya hanya muncul saat saya menghindari sesuatu.

walaupun ujung-ujungnya sama saja. perhatian bisa dialihkan, tapi pikiran punya cara sendiri untuk kembali. jadi ya sudah. sekarang saya tidak lagi pura-pura sibuk. laptop masih terbuka, tapi lebih sering saya diam saja, melihat sekitar, lalu kembali ke dalam kepala sendiri sambil melihat variasi cara manusia menghadapi cemas.

ada yang serius sekali berzikir. ritmenya konsisten, mungkin lebih stabil dari detak jantung saya sendiri. ada juga yang menangis, pelan tapi cukup untuk bikin orang lain ikut menahan napas. lalu ada yang tidur. ini golongan yang menurut saya paling hebat. di tengah ketidakpastian, dia bisa memilih untuk rebahan dalam posisi duduk dan benar-benar terlelap. saya belum sampai level itu. yang agak menghangatkan suasana adalah yang bagi-bagi makanan.

sepertinya di ruang ini tidak ada cara yang paling benar untuk menunggu. semua orang punya versinya sendiri. ada yang religius, ada yang emosional, ada yang praktis, ada yang ngemil.

sementara ini, saya ikut arus saja. duduk, lihat sekitar, dan sesekali tarik napas lebih dalam dari biasanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *